Ijasah belum jadi. Salah siapa ?

tanda tanya ?
(gambar dari sini)


Ijasah belum jadi. Siapa yang salah ? - Kemarin keponakanku menanyakan apa saja yang harus dibawa ke Disnaker sebagai persyaratan membuat kartu kuning (Kartu Tanda Pencari Kerja), karena dia hendak melamar pekerjaan. Saya kasih tahu bahwa dia harus bawa KTP (+ foto kopinya 2 lembar), foto 2x3 2 lembar, dan ijasah pendidikan terakhir (+ foto kopinya 2 lembar), sementara untuk pembayaranya tidak dipungut biaya, alias gratis.

Tapi sepertinya niatnya itu tidak bisa terpenuhi dikarenakan ijasah terakhirnya sampai sekarang belum keluar. Padahal UN dilaksanakan bulan April, dan sekarang sudah masuk akhir Agustus. Artinya selama 4 bulan ijasah belum kelar-kelar..

Memang dia punya tunggakan iuran sekolah (entah iuran apa), dan kemarin pagi dia melunasinya sembari mengambil ijasah. Tapi ternyata ijasahnya belum beres. Katanya dari pusat belum sampai ke sekolah.

Kenapa ya kok bisa telat begini ? Padahal jaman saya dulu, akhir tahun ajaran ijasah sudah bisa diterima, tidak perlu nunggu waktu yang lama, kecuali bagi yang punya tunggakan,, banyak pihak sekolah menahan ijasah murid yang masih memiliki tunggakan iuran.

Padahal, betapa pentingnya ijasah tersebut, terutama bagi yang hendak mencari kerja.

Siapa sebenarnya yang salah ??

Sampai kapan birokrasi di negeri ini akan terus seperti ini ??

Bagaimana angka pengangguran bisa berkurang kalau ijasah, yang merupakan pokok utama untuk mencari kerja, tidak kelar tepat waktu ???

Padahal, ijasah adalah salahsatu tujuan utama anak-anak sekolah, secarik kertas yang sangat diinginkan oleh setiap orang tua dengan harapan bisa mengubah nasib anak-anaknya agar tidak seperti orangtuanya,,, yang pada akhirnya kehidupannyapun akan ikut berubah,,,

Ya,,,, inilah potret birokrasi di negeri ini. Hampir sebagian besar aparatur pemerintah, lelet dalam bekerja, lemot dalam melaksanakan tanggung jawabnya untuk melayani masyarakat, padahal mereka dibayar oleh negara dengan uang hasil iuran pajak dari masyarakat.

Saya tahu masih banyak aparat yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, semoga saja kelak akan semakin banyak orang-orang seperti ini. Sehingga bangsa kita bisa semakin maju....

14 komentar

kata saya juga...mundurkan "PROFESOR KEMPLUD-nya NGGA BISA KERJA TUH!!....kita tunggu Perskonfrennya....pasti NYALAHIN ORANG LAIN, DAN PASTI ALESAN LAGI....taik kucing banget kan.

Itu dia masalahnya sistem birokrasi kita sangat lambat dalam proses kerja seperti ini makanya susah memang kita berkembang sudah seperti ini terjadinya.

yang salah itu kepala sekolahnya..seharunya semua yang mengikuti UN dan dinyatakan lulus,,,maka pihak sekolah harus mengajukan nilai dan segala persyaratan siswa untuk dibuatkan ijazahnya, jadi tidak boleh dicampur adukkan dengan belum bayar spp atau hal yang lainnya,
apabila memang siswa belum melunasi kewajibannya kepada pihak sekolah, maka ijazahnya ditahan dulu hingga siswa itu melunasi kewajibannya..tapi dengan catatan ijazahnya sudah jadi ya ...pada saay siswa membayar..ijazah juga didapatkan...,
laporkan saja kepala sekolah kepada kementrian pendidikan, atau bisa juga melakukan pengaduan melalu surat pembaca...agar kepseknya bisa segera ditindaki.......salam :-)

Kok aneh ya,masa ijazah nya belum beres.Seharusnya dari pusat sudah sampe ke sekolah donk,karena ijazah tersebut kan sangat dibutuhkan bagi siswa siswi yang berniat ingin meamar pekerjaan

@Cilembu thea : sabar kang,, sabar ah,,, :)

@Abed Saragih : betul etateh,,,,

@BlogS Of Hariyanto : qt lihat dulu perkembangannya,,, jk belum juga keluar,, baru saya sampaikan langsung di suara pembaca,,

@Obat Gejala Penyakit Migren : nah itu dia yang mmbuat kami kecewa,,

iya saya setuju ,, seharusnya di benahi agar dalam proses kerja nya ya pak

Hanya berharap...semoga kedepan nya hal ini tidak sampai menjd berlarut2 ya kang...

Agar dunia pendidikan dan anak2 negeri ini...sesuai dg yg kita harapkan bersama..semoga :)

biasanya ada ijazah sementara kan kang!?

moga keponakannya cepat dapat pekerjaan ya kang

Nyepamm ! Kutendang kau !!!
EmoticonEmoticon